akan kuberi tahu bagaimana udara
membius kulitku pukul dua dini hari
saat lampu-lampu telanjur enggan
menyorot berita kematian
yang berputar-putar di kepalaku
membisikkan kenyataan
seorang penyair lebih dulu pergi
setelah cinta telah selesai dirawat
dalam sekali pelukan sehari
dan Engkau, tolong kecup keningnya
hingga ingar-bingar dunia
takberani lagi menyentuh
sebab aku percaya
Engkau tak pernah pura-pura
menjelmakan apa pun dan menjadi pengutuk
bagi siapa pun, maka sepantasnyalah
ia serahkan diri jadi seorang paling lemah
menerima takdir, termasuk menerima
habisnya kontrak dunia
2024

Zakiyyatul Fuadah lahir di Purworejo, Jawa Tengah. Alumnus Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta yang sedang kuliah di Unsoed Purwokerto dan menjadi anggota tim asessor puisi di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban UIN Saizu Purwokerto. Puisinya terpublikasi di pelbagai media cetak dan daring.


