setelah keberangkatanmu, aku dideru murung
segalanya tampak janggal
setiap kumasuki kamar untuk membangunkan Ibu,
sekadar mengingatkan matanya yang kian bengkak
aku semakin disekap murung yang gelap
bias cahaya bagai penanda bayangmu tinggal remang mambang
oh, adakah benar tumpangan masa lalu setakat rasian
atau ngigau orang-orang kehilangan
Pesisir Selatan, 2022

Arif Purnama Putra lahir di Surantih, Pantai Barat Sumatra. Buku tunggalnya yang telah terbit Suara Limbubu (2018) dan sebuah novel Binga (2019). Karya-karyanya pernah dimuat beberapa media, seperti Suara Merdeka, Haluan, Solopos, Rakyat Sultra, Minggu Pagi, Tempo, Kompas.id, dan Bacapetra. Sekarang, ia berkegiatan di komunitas Serikat Marewai, website marewai.com.


