Aksan Taqwin Embe
Sudah lama Suprapti—perempuan tua perantauan dari Surabaya menderita pneumonia. Sejauh ini yang ia lakukan adalah terapi, pengobatan herbal, dan meditasi. Tidak diketahui sudah pulih atau belum, sejauh mana perkembangannya, dan bagaimana statistik rasa yang ia alami. Setelah dokter memvonis bahwa ia harus mendapatkan perawatan intensif, ia sangat takut dengan kematian. Dalam kondisi tinggal sendirian saja sudah sangat menyakitkan, bagaimana jika terlintas ingatan-ingatan tentang kematian. Jika pun mati, ia ingin mati dalam keadaan lengah. Tanpa merasakan kesakitan pun atau dihantu-hantui dengan kelebat-kelebat cahaya putih, hitam, biru, atau apa pun itu. Ia ingat Kriwul tetangganya sangat menderita meregang nyawa di sela-sela menjelang sakaratul maut. Keluarganya datang satu persatu ketika itu. Sempat-sempatnya ia teriak-teriak sambil melihat dinding di pojok kanan atas; pergi, pergi, pergi, hingga akhirnya perlahan ia mati dalam keadaan mulut membengkok ke kanan, dan mata terbuka lebar. Sungguh, wajah Kriwul mendadak berubah lebam dan menyeramkan.
Suprapti sudah tak mau lagi berurusan dengan dokter dan rumah sakit. Tubuhnya mendadak gemetar ketakutan dengan ingatan-ingatan berpuluh tahun silam. Ia diingatkan ketika ayahnya terbaring di rumah sakit selama tiga hari, yang kata ayahnya hanya merasakan dadanya sesak, punggungnya sakit, kemudian dianjurkan rawat inap. Hingga akhirnya, ayahnya meninggal di hari keempat. Dari peristiwa itu, ia menjadi trauma dan menganggap rumah sakit semua sama: menyimpan luka, trauma, dan kesedihan. Padahal biasanya, jika dada sesak, punggung sakit, dikerik pun sudah sembuh. Ia yakin ayahnya hanyalah masuk angin seperti biasa-biasanya. Ia yakin jika ketika itu ia memberikan pertolongan cepat, dengan mengeriknya, ayahnya mungkin saja tidak meninggal di usia 55 tahun. Kematian ayahnya disusul kematian ibunya 5 tahun setelahnya. Kesibukan kantor dan pekerjaan yang padat membuat ia lalai bagaimana mengurus ayah dan ibunya yang perlahan menua dan meninggal pada waktu yang takterduga. Pada akhirnya, ia sadar bahwa kematian adalah takdir yang tidak bisa dicegah.
Ia masih ingat betul wajah ayahnya yang selalu muram, padahal sangat penyayang, sementara ibunya yang sabar dan lembut. Sayang mereka belum bisa merasakan hasil jerih payah kesuksesan Suprapti. Belakangan ini ia sangat merindukan ayahnya. Ia kehilangan wajah di foto ayahnya. Setelah banjir besar beberapa tahun silam, seluruh dokumen dan foto-foto hanyut, tenggelam, mengambang. Hanya beberapa dokumen dan foto yang bisa diselamatkan. Termasuk foto dirinya, bersama ayah dan ibunya. Namun sayang, foto tepat di wajah ayahnya luntur dan hilang. Ia mencoba mengingat-ingat wajah penyayang, wajah yang sangat muram itu. Hanya sebatas mengingat-ingat.
Di pinggiran sungai Cisadane, orang-orang mulai panik karena hujan tak kunjung turun. Sungai mulai mengering, perahu-perahu menepi terdampar. Dari kejauhan, Suprapti sudah bergidik dan tahu pada pukul 10.00 truk sampah pastilah melintas di depan rumahnya. Ia yakin pula pasti ada saja yang tercecer dari bak truk setelah melintasi polisi tidur. Truk itu berjalan pelan-pelan, baknya geal-geol di sepanjang jalan berlubang tepian sungai. Kecoa-kecoa turun dari bak sampah, tercecer bersamaan plastik dan sisa-sisa makanan yang berhambur-benyai terlindas ban-ban kendaraan. Kecoa-kecoa itu berjalan dengan cepat masuk ke rumah-rumah warga. Tidak berlangsung lama, Suprapti melihat dua kecoa secara bersamaan di bibir pintu, langsung menggeprak dengan sandal. Kepalanya remuk, wajah-wajah kecoa lenyap seketika. Wajah mungil yang menakutkan dan menjijikkan. Sebenarnya, bukan perkara wajah kecoa yang ditakuti Suprapti, melainkan takut kecoa-kecoa itu bersarang di rumah, kencing dan menebar kotoran-kotoran membuat penyakit di dalam rumah.
Di hari yang sama, selisih beberapa menit ada kucing terlindas motor. Separuh wajah kucing itu menyatu dengan aspal. Separuhnya hilang. Hancur berantakan. Pemilik kucing berlari menuju lokasi, kemudian menangis histeris. Wajah kucing tipe british short hair milik tetangga itu mendadak berantakan. Wajah yang lucu dan menyenangkan jika dipandang. Padahal sebelumnya kucing itu sudah ditawar seharga 37 juta. Apalah daya, nasib berkata lain. Kucing itu berlari keluar ketika pintu sedikit terbuka. Saat itu pemilik sedang rapat virtual, sementara pembantu berada di dapur. Pintu rumah yang tidak sengaja terbuka oleh pembantu itu menjadi bukti kecerobohan. Pembantu menjadi bulan-bulanan amarah, dimaki-maki, dan akhirnya pembantu itu dipecat saat itu juga. Pengendara yang menabrak kabur begitu saja. Tidak ada yang sanggup mengejar, tidak ada yang bisa mempertanggungjawabkan, kecuali pembantu yang terpaksa kehilangan pekerjaan. Majikan mencari ke mana perginya wajah kucing kesayangannya. Apakah terbawa di ban pengendara, atau menempel di sela-sela mesin motor? Dengan sangat terpaksa dan duka yang mendalam, kucing itu dikuburkan tanpa wajah di kepala.
Pada akhirnya pembantu itu merasa kehilangan wajahnya ketika ia dimaki-maki majikan di depan halaman rumah. Orang-orang perlahan menghampiri dan melihat kejadian itu. Orang-orang menyayangkan, mengapa harus seketika menghakimi dan memberi keputusan yang sebenarnya tidak semestinya. Itu bukan sepenuhnya salah pembantunya dan bukan pula kebenaran ada pada dirinya. Bisa dibicarakan baik-baik, bagaimana asal muasal kucing kesayangan bisa keluar rumah, kemudian tewas begitu saja. Pembantu itu terpukul, juga malu. Pada akhirnya, ia pulang dengan gontai dan menutupi wajahnya. Wajah yang dirasa hilang saat itu juga.
Malam menjelang ulang tahun, 15 April 2014, Suprapti terbangun dari mimpi buruknya. Di dalam mimpinya, ayahnya hadir mengetuk kamarnya. Ketukannya sangat pelan, seperti dulu; biasanya ayahnya sangat tidak tega membangunkannya ketika ia tertidur pulas. Kali ini ketukannya tanpa suara. Ia buka pelan-pelan dengan ragu-ragu. Benar saja, keraguannya melebihi ketakutannya. Ia melihat sosok ayahnya tanpa wajah. Tentu ia hafal bagaimana tubuh ayahnya, kepala dan rambutnya. Padahal jika wajahnya melengkapi kepala ayahnya, kerinduannya akan terobati. Namun tidak, justru kali ini ia ketakutan. Ia tersentak, kemudian terbangun mengatur napas. Ia menganggap bahwa ini adalah mimpi paling buruk yang pernah ia alami.
Tubuhnya terasa lebih lelah dari biasanya. Ia pandang lekat-lekat jam dinding menunjukkan pukul 21.00. Di balik jam, ia melihat dua cecak saling berkejaran. Saling tindih, kemudian jatuh ke lantai. Ia masih memandang ke mana arah cecak itu. Betapa tersentaknya ketika ia melihat dua cecak tanpa wajah. Kepalanya rata dengan warna tubuhnya, tanpa mata, mulut, dan lidah. Cecak-cecak itu berjalan sangat cepat, kemudian menghilang entah ke mana. Ke manakah perginya wajah-wajah itu?
***
Sudah 25 tahun Suprapti bekerja di perusahaan properti. Menjelang masa pensiun di usia 55 tahun, ia ingin menunjukkan kontribusi lebih dan profesionalitas dalam menawarkan produk-produk baru, iklan-iklan baru. Sejak awal, pimpinan perusahaan—bos yang berlapis-lapis, dari tertinggi hingga kepala bidang—menyukai bagaimana kinerja Suprapti. Apresiasi tinggi dan penghargaan 3 tahun berturut-turut diberikan untuk Suprapti menjelang masa pensiunnya. Orang-orang tidak heran dan sudah menjadi rahasia umum bagaimana kinerjanya. Tentu saja, mau tidak mau, mereka harus mengakui kalah. Atau justru mengalah?
Setiap pagi setelah presensi sidik jari dan menaruh tas ke meja kerja, Suprapti selalu merasa kehilangan wajahnya. Lantas ia bergegas ke toilet, kemudian ia bercermin. Padahal, ia yakin sudah bersolek sedemikian rupa, berpenampilan menawan dengan lipstik warna kulit. Pertama kali ia merasa bahwa wajahnya hilang, ia menyentuh wajahnya dengan tangan gemetar, mengusap-usap wajahnya pelan-pelan. Ia merasa wajahnya rata, wajahnya hilang. Namun, ia tetap masih bisa melihat bagaimana bentuk wajahnya yang rata. Ia mencari-cari kemana wajahnya tertinggal. Berkali-kali ia menyalahkan cermin toilet. Namun, setelah ia mencoba menggunakan cermin bedak miliknya, temannya, atau cermin yang tertempel di pembatas meja kerjanya, tetap saja wajahnya hilang. Menurut kawan-kawannya, wajah Suprapti biasa saja, tidak ada yang berubah, cantik dan manis seperti semula. Pada akhirnya melalui kepanikan itulah, ia melakukan apa pun yang mesti dan bisa ia lakukan di depan bosnya.
Semestinya, Suprapti sudah naik jabatan pascakehilangan wajahnya yang ketiga kalinya. Namun, ia selalu menolak. Ia memberikan kesempatan bagi orang-orang di sekitarnya atau orang yang jauh di bawahnya. Konon, ia tidak mau terlibat dalam struktur kepemimpinan. Merepotkan katanya. Yang terpenting, ia bisa mengerjakan apa yang diharapkan dan memberikan apa yang dipinta pimpinan. Baginya menjadi karyawan biasa sudah cukup, tidak mau banyak beban. Melalui wajah yang kerap hilang, harapan gajinya sepadan dengan pimpinan mungkin menjadi tujuan. Tidak peduli dari mana saja. Uang bisa mengucur dari mana saja melalui apa yang dikerjakan dan baik di mata bosnya.
Di depan bosnya, ia merasa menjadi pegawai paling baik dan mengerti segalanya. Apa pun yang bos pinta dengan cekatan ia lakukan. Melakukan pekerjaan yang bukan seharusnya pun ia kerjakan. Menulis laporan-laporan secara rapi, menyampaikan kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan kawan kerja, kawan yang tidak berkontribusi, hanya ngopi kemudian pergi, dan sebagainya. Menurutnya itu disampaikan demi kebaikan perusahaan, kebaikan perusahaan!
Malam itu, suasana kantor sudah sangat sepi. Orang-orang sudah pulang lebih awal. Tinggal Suprapti dan bosnya. Bosnya sangat percaya, apa yang dilakukannya pasti berhasil. Bosnya meminta agar ia menyelesaikan pengajuan proyek pembangunan malam itu juga. Sebab esok pagi harus segera dipresentasikan. Lagi-lagi, ia tidak bisa menolak ajakan bosnya. Ia kerjakan dengan senyuman yang rekah meski ia tidak pernah mampu melihat senyumannya sendiri.
Suprapti tahu dan sadar bahwa bosnya memiliki cinta kepadanya. Berkali-kali, ia dihadiahi ketika proyek berhasil, ulang tahun, atau sepulangan bosnya dari dalam atau luar negeri. Jam tangan, perhiasan, sampai tas bermerek. Entah itu cinta yang keberapa bagi Suprapti. Sebab ia tahu saat itu bosnya sudah memiliki tiga istri yang tersebar di beberapa kota. Bosnya adalah lelaki yang ke sekian ditolak oleh Suprapti untuk ajakan menikah. Ia memilih bersenang-senang saja. Baginya uang dan kedudukan lebih penting—mencukupi seluruh harapan ketimbang harus memiliki cinta. Merepotkan! Dengan uang, ia mampu mendapatkan segalanya, termasuk cinta dan harga diri.
Sesampai rumah wajah Suprapti kembali muncul. Setelah mandi, dalam kondisi rambut yang basah, ia memandangi wajahnya di depan cermin. Ia sapu pelan-pelan wajah cantiknya. Tersenyum sendiri. Manis sekali. Kadang ia berpikir mengapa ia tidak menikah saja agar seluruh biaya kehidupannya, peralatan kosmetiknya, bajunya, ada yang menanggung. Lantas ia berpikir kembali pernikahan hanyalah formalitas agar dikatakan laku dan tidak dikata perawan tua saja. Pernikahan baginya akan merepotkan dan menjadi penghalang karirnya. Ditambah lagi, ia harus mengurus anak dan suami, menuruti segala kebutuhan-kebutuhannya, yang kelak akan menjadikan wajahnya tidak cantik lagi. Keriput, kendur, dan berantakan.
***
Di masa pensiun, wajah Suprapti kembali seperti semula, masih terlihat cantik sempurna meski di usia menua. Namun, seminggu menjelang lebaran idulfitri ketika orang-orang memujinya bahwa dirinya sebagai perempuan yang tangguh dan mandiri, wajahnya kembali menghilang. Ia merasa wajahnya selalu hilang di mata orang-orang, bahkan ketika sedang menerbangkan doa-doa di hadapan Tuhan. Di sebuah kampung yang perlu bantuan, ia menyumbangkan beberapa uang tabungan dari pensiunannya. Ia memberikan zakat mal dan fitrah kepada orang-orang. Dengan bangga dan senyum merekah, ia meminta untuk diabadikan dan diumumkan kepada masyarakat agar mereka mengenali wajahnya meski ia sama sekali tidak bisa lagi melihat wajahnya.
Seusai salat dua rakaat, Suprapti duduk bersila melakukan meditasi. Ia yakin akan sembuh. Di dalam pejamannya ia kembali mencari wajahnya yang hilang, mencari hingga menembus langit di hadapan Tuhan.
Tangerang Selatan, 23 November 2023

Aksan Taqwin Embe
Guru dan Penjual Sambal Merah Cumi Daun Jeruk.
Bukunya yang sudah terbit: Gadis Pingitan (2014), Melawat ke Seruyan; Mengabadikan Epistolari Perjalanan (2020), Mati yang Menakjubkan (2020), Kita Susah Tidur sejak Dilahirkan (2023). Saat ini, ia bergabung di Komunitas Madah Doa dan mengelola website Tanpabatas.art.



