LITERASI BAGI ODGJ

Resta Sastra Dewa & Annisa Dwiana Putri

Duta Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara 2023

Hal yang pertama kali dapat muncul dalam pemikiran seseorang ketika mendengar literasi bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) bisa saja mengarah ke skeptisisme. Adanya rasa tidak yakin dan ragu akan program ini tentu saja tidak dapat terelakkan. Namun, keraguan bukanlah alasan bagi manusia untuk tidak mengambil satu langkah perubahan dalam hidupnya. Sudah banyak pakar motivasi memberikan saran bagi manusia untuk tidak terjebak dalam rasa ragu hingga akhirnya memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa. Sama halnya ketika pertama kali IKA Duta Bahasa Sulawesi Tenggara sebagai duta penggerak literasi diajak bermitra oleh pihak Rumah Sakit Jiwa Kota Kendari untuk melakukan pendampingan pasien. Hal yang tidak biasa bagi IKA Duta Bahasa Sultra menyentuh ranah ini karena program Duta Bahasa Sultra lebih sering dilaksanakan di lingkungan sekolah dan komunitas. Saat itu, satu hal yang tebersit dari pikiran kami adalah pesan motivasi dari Roy T. Bennet yang mengatakan “Untuk mempelajari sesuatu yang baru, kamu perlu mencoba hal-hal baru dan tidak takut salah.” Jadi, berliterasi di RSJ? Siapa takut!

Program Literasi Rumah Sakit Jiwa telah dilaksanakan sejak tahun 2017 dan masih berlangsung hingga saat ini. Program ini bertujuan sebagai salah satu bentuk aktivitas rehabilitasi pasien rumah sakit jiwa melalui pendekatan literasi. Pada tahun 2023, program literasi rumah sakit jiwa dikembangkan menjadi Remedi—Rehabilitasi Mental dengan Literasi. Selaras dengan berubahnya nama program menjadi Remedi, kegiatan yang dilaksanakan pun berkembang dengan menyesuaikan pada kondisi pasien dan target yang akan dihasilkan. Adapun beberapa hal yang dikembangkan dari pelaksanaan Literasi Rumah Sakit Jiwa menjadi Remedi adalah pertama, target peserta binaan dalam kegiatan Remedi diseleksi menjadi lebih spesifik. Sebelumnya, seluruh pasien yang dikategorikan mampu untuk berinteraksi dengan baik dapat diikutsertakan dalam kegiatan, sedangkan pada Remedi, target yang dipilih adalah pasien yang telah menerima pendampingan atau kategori pasien dalam fase rehabilitasi. Pemilihan pasien juga berdasarkan rekomendasi dari Kepala Unit Rehabilitasi Mental, Ravianti Dony, S.Psi., M.Psi. Ia menjelaskan bahwa pada tahap ini, para pasien dianggap sudah mampu menerima pendampingan materi dengan lebih efektif dan sudah siap berinteraksi dengan masyarakat.

Kedua, materi pada Remedi berbeda dengan kegiatan Literasi Rumah Sakit Jiwa. Materi dalam Literasi Rumah Sakit Jiwa terdiri atas permainan kata (scrabble), mewarnai, menulis nama hari, senam bersama, dan bercerita mengenai keseharian mereka. Sementara pada kegiatan Remedi, kegiatan lebih terfokus pada literasi baca, tulis, dan berbicara/bercerita sebagai upaya untuk melatih kembali kemampuan kognitif pasien rehabilitasi RSJ. Jadwal kunjungan ke RSJ tidak mengalami perubahan sejak awal pelaksanaan yaitu setiap hari Jumat selama kurang lebih dua jam pendampingan. Selama pendampingan, tentu saja ada beberapa kendala yang dilalui oleh tim duta bahasa yang bertugas. Namun, kendala-kendala yang dihadapi di lapangan akan didiskusikan kembali kepada pihak RSJ dalam hal ini Ibu Ravianty Dony agar tim dubas dapat meminimalisasi hal-hal yang bersifat kendala di pertemuan mendatang.

Salah satu kendala utama yang dapat muncul dalam kegiatan pendampingan (Remedi) ini adalah bagaimana bisa menghadapi pasien ODGJ yang umumnya mengalami penurunan kemampuan kognitif seperti yang telah diuraikan pada teori psikoanalisis yang dijelaskan oleh Sigmund Freud bahwa pasien yang mengalami gangguan kejiwaan mengalami penurunan kemampuan kognitif disebabkan oleh beragam faktor. Salah satunya adalah proses defensi dengan cara mengubur memori trauma ke alam bawah sadar sehingga umum dijumpai pasien yang tidak dapat mengenali lingkungan dan kehilangan pengetahuan umum lainnya. Salah satu hal yang mampu mempercepat pemulihan motorik pasien adalah dengan melakukan aktivitas fisik ringan, seperti senam, melukis, menggambar, dan lain-lain.  

IKA Duta Bahasa Sultra melalui Remedi berupaya memfasilitasi pasien-pasien di RSJ Kota Kendari dengan menginisiasi kegiatan yang dapat membantu mempercepat pemulihan kognitif, motorik, dan sosial. Tentunya, kegiatan-kegiatan yang dilakukan masih tetap berkaitan dengan literasi baca tulis akan tetapi Dubas Sultra tetap menuangkannya dalam hal yang sederhana dan menyenangkan, seperti menyusun kata, menulis kalimat sederhana, bercerita, dan menebak nama hewan, benda, atau aktivitas. Dalam hal ini, Dubas Sultra berperan sebagai fasilitator dalam proses rehabilitasi sebagai bentuk terapi kelompok. Penguatan yang diberikan oleh Kepala Unit Rehabilitasi Mental kepada Dubas Sultra dalam melaksanakan kegiatan ini adalah bahwa literasi untuk ODGJ sangat mungkin dilakukan. Hal ini diutarakan bukan tanpa alasan karena beberapa negara juga telah menerapkan pendekatan literasi pada ODGJ, salah satunya di Taipei Medical University Hospital di mana pasien diberikan bahan bacaan untuk didiskusikan. Dampak dari metode terapi membaca tersebut terbukti dapat membantu pasien berbicara lebih koheren terkait topik yang dibahas. Eksperimen lainnya juga dilakukan oleh James W. Pennebaker dan telah ditulis dalam jurnal Expressive Writing in Psychologycal Science tahun 2018. James memaparkan bahwa setelah melakukan eksperimen kepada pelajar yang menderita gangguan mental dengan memberikan tugas untuk latihan menulis selama 15 menit per hari dalam periode enam bulan, frekuensi kunjungan ke pusat kesehatan mengalami penurunan dan imunitas tubuhnya menjadi meningkat.

Dengan beberapa alasan tersebut dan juga penguatan dari pihak RSJ Kota Kendari, Dubas Sultra mulai melakukan kegiatan Remedi sejak bulan Juni tahun 2023. Selama kurang lebih satu setengah bulan dengan jadwal kunjungan satu kali dalam seminggu, Dubas Sultra yang berperan sebagai fasilitator melihat adanya perubahan yang cukup signifikan, seperti dari yang awalnya malu-malu dan sulit untuk didekati menjadi tidak malu lagi bahkan sebagian besar telah berani berbicara di depan umum untuk menjelaskan apa yang mereka tulis. Selanjutnya, pasien yang tidak mengenali aksara atau buta aksara dapat mengenali hingga 17 dari 26 abjad dan mampu merangkai kata sederhana berdasarkan kata tersebut seperti “ibu”, “ubi” “makan” dan lain sebagainya.

Setelah beberapa kali pertemuan, evaluasi merupakan hal yang tidak dapat diabaikan sebagai bentuk refleksi terhadap kegiatan ini. Dari hasil evaluasi pun kami menganggap bahwa kegiatan pendampingan ini harus terus dilakukan. Energi positif yang kami terima dari pasien-pasien membuat kami bertekad untuk terus berusaha memberikan yang terbaik, membantu pihak RSJ Kota Kendari mendampingi pasien-pasien yang (mungkin) saja beberapa di antara mereka dimarginalkan di lingkungan mereka. Pihak RSJ pun melalui Ibu Ravianty Dony selaku psikolog di rumah sakit tersebut mengakui bahwa hadirnya program ini dapat mempercepat adaptasi pasien dengan masyarakat umum. Selain sebagai upaya memperkenalkan kembali literasi baca tulis kepada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), kegiatan ini juga menjadi bentuk kontribusi pemuda terhadap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan memastikan bahwa setiap warga negara Indonesia mendapatkan haknya untuk belajar dan mengembangkan potensi diri.

Salah satu kutipan dari seorang penulis asal India, Amit Ray mengatakan, “Kegembiraan ditemukan ketika kamu memfokuskan energimu untuk meningkatkan martabat manusia, kapasitas manusia, dan nilai-nilai kemanusiaan.” Kami percaya bahwa kebaikan dan ketulusan yang kami lakukan akan memberikan hal yang luar biasa kepada mereka khususnya pasien ODGJ dan juga kepada masyarakat terutama organisasi dan komunitas serta pemangku kepentingan (lembaga/instansi terkait). Hal ini akan menjadi motivasi bagi kami, Duta Bahasa Sulawesi Tenggara, untuk terus berbuat kebaikan melalui jalan sinergitas dan kolaborasi kepada pihak manapun yang membutuhkan terutama dalam peningkatkan dan penguatan literasi di Indonesia.

Referensi:

Bes, Bambang. “Membaca sebagai Terapi Rehabilitasi bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)”. 4 September. 2023. <https://unair.ac.id/membaca-terapi-rehabilitasi-bagi-orang-gangguan-jiwa-odgj/>

Rossler, Wulf, “Psychiatric Rehabilitation Today: An Overview.” World Psychiatry, 5.3 (2006): 151-157. 

Pennebaker, W. James, “Expressive Writing in Psychological Science.” Perspective on Psychological Science, 13.2 (2018): 226-229.