Suatu sore, Elansyah pulang dari latihan teater di Taman Budaya dan menemukan bahwa anak sulungnya telah berhasil mengeluarkan seekor paus merah jambu dari dalam kepalanya.
“Bagaimana mungkin?” Elansyah menjerit meski ia berusaha tampak tenang, “ini tidak masuk akal.”
“Aku melakukannya, Bah,” si sulung bersorak.
“Aku berhasil mengeluarkan imajinasiku, seperti yang Abah suruh.”
Elansyah, istrinya, si sulung, dan si bungsu duduk mengelilingi si paus merah jambu yang berguling-guling riang di atas lantai papan ulin ruang tamu rumah mereka yang berwarna kehitaman disepuh waktu. Si bungsu menyentuh kulit si paus dengan ragu-ragu menggunakan ujung jari telunjuk, dan meringis melihat lendir yang lengket di jarinya.
“Aku masih tidak percaya hal seperti ini bisa terjadi,” Elansyah menggeleng-gelengkan kepala.
“Tapi, …,” si istri memotong, “setahuku, kau orang yang paling tidak rasional di Samarinda atau mungkin di seluruh dunia. Kau selalu mempercayai imajinasimu. Jadi, kenapa hal seperti ini tidak bisa kau percaya?”
“Dan Abah yang menyuruhku mengeluarkan imajinasiku,” si sulung menambah.
“Ya, …,” Elansyah menjawab dengan ragu-ragu, “itu benar. Aku seorang seniman. Seorang aktor teater. Aku bekerja dengan imajinasiku. Tadi siang, waktu latihan, aku mengimajinasikan sebuah gunung tiba-tiba muncul di depanku dan aku mendaki gunung tersebut dan aku percaya gunung itu benar-benar ada di tempat latihan.”
Elansyah kemudian menatap si sulung, “dan, ya, …, aku mengatakan kepadamu agar mengeluarkan imajinasimu. Kau suka melamun. Kau melamun sepanjang hari dan kadang kau bicara sendiri ….”
“Aku bicara dengan paus ini,” si sulung memotong, “seekor paus merah jambu yang lucu.”
“Karena itulah aku menyuruhmu mengeluarkan imajinasimu,” jawab Elansyah. “Agar kau tidak lagi seperti itu, maksudku, kau tidak lagi berbicara sendiri seperti orang sinting. Namun, yang kumaksud, kau menuliskan imajinasimu, atau melukiskannya, atau apa pun itu. Kau anak seorang seniman. Ada darah seniman dalam dirimu. Karena itulah, aku pikir kau akan menghasilkan karya seni dengan imajinasimu itu. Itu yang aku maksud dengan mengeluarkan imajinasimu.”
“Dia melakukannya,” si istri menukas. “Bagaimana pun bentuknya, dia mengeluarkan imajinasinya. Seperti yang kau suruh.”
“Aku melakukannya,” si sulung menambah. “Aku benar-benar mengeluarkan imajinasiku seperti yang Abah suruh.”
“Hal seperti ini di luar dugaanku,” kata Elansyah, “dan aku tak tahu bagaimana kau melakukannya.”
“Aku memikirkan paus ini,” kata si sulung. “Aku memikirkannya dan ia bicara kepadaku. Lantas aku memintanya keluar. Ia setuju. Lalu, aku bersin dan ia keluar dari mulutku, begitu saja.”
Pada mulanya, semua berjalan baik. Elansyah hampir tidak pernah melihat si sulung melamun atau bicara sendiri sejak saat itu. Paus itu pun menjadi teman bermain yang menyenangkan bagi kedua anaknya. Paus itu menggeliat-geliat dan berjalan mengesot dengan bertumpu kepada kedua sirip yang dikepak-kepakkan ke lantai untuk mengejar kedua bocah yang berlarian di dalam rumah. Dan tiap beberapa jam sekali, si paus akan membuka mulutnya lebar-lebar. Itu adalah tanda bagi si sulung untuk melemparkan seekor ikan mentah ke mulut si paus.
“Paus ini minta ikan kakap …,” si sulung berseru, “itu ikan favoritnya.”
“Kau harus mengajarinya makan ikan layang, Nak,” si Ibu, istri Elansyah, menyahut. “Harga ikan kakap sekilo sudah 70 ribu rupiah. Itu mahal betul.”
“Tapi, paus ini memang hanya mau makan kakap,” si sulung tampak memberengut. “Aku sudah mencoba ngasih tempe, tapi ia tidak mau.”
“Aku tahu,” perempuan itu mengembuskan napas berat, “aku tahu.”
Seberapa pun mahalnya, perempuan itu tetap saja membeli ikan kakap tiap hari dari seorang pedagang langganan di Pasar Segiri.
Kawan-kawan dua bocah itu mulai berdatangan ke rumah mereka dan terkagum-kagum menyaksikan tingkah polah si paus yang bergoleran seperti seekor kucing. Lantas mereka ikut bermain bersama si paus.
“Bukankah paus seharusnya hidup di laut?” seorang anak bertanya suatu kali sambil menyentak-nyentakkan buntalan tali berumbai di depan hidung si paus.
“Ia bernapas dengan paru-paru seperti kita,” istri Elansyah menjelaskan. “Jadi, tidak masalah ia hidup di dalam rumah.”
“Tapi, ia seharusnya berenang,” seorang bocah yang lain membantah sambil membetulkan kacamata, “dan setahuku, ikan paus berwarna hitam putih atau abu-abu dan bukan merah jambu. Aku ngecek di Google.”
“Ini paus imajinasiku,” si sulung memotong, “ia bisa bewarna apa pun dan melakukan apa pun sesuai imajinasiku.”
Kedatangan para bocah itu segera diikuti oleh kedatangan para tetangga. Mereka terpukau dan mengelus-elus si paus. Si paus menggeliat-geliat manja setiap kali ada seseorang yang menyentuhnya.
“Ini paus ajaib,” kata seseorang.
“Ini paus imajinasiku,” si sulung menjawab bangga.
“Dan warnanya merah jambu,” seorang tetangga yang lain menambah sambil berdecak.
“Ini paus imajinasiku,” si sulung mengulang apa yang ia katakan sebelumnya.
Seiring hari, semakin banyak orang yang datang.
Lantas tak lama kemudian, rumah Elansyah tak pernah sepi. Orang-orang yang datang untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri ikan paus ajaib berwarna merah jambu tersebut makin banyak dan antrian mereka membentuk garis panjang hingga ke tepi cakrawala.
Namun, paus adalah paus. Takpeduli ia paus ajaib atau paus biasa, takpeduli ia berwarna hitam putih atau abu-abu atau merah jambu, takpeduli ia berenang di lautan luas atau teronggok di ruang tamu sebuah rumah di Samarinda. Si paus makan banyak sekali dan ia tumbuh cepat sekali. Seekor kakap untuk sekali makan berubah menjadi sepuluh ekor kakap berukuran besar sekali makan. Belum seminggu berlalu ketika ukuran si paus membengkak berkali-kali lipat. Ruang tamu rumah Elansyah tak lagi cukup menampungnya sehingga bilah-bilah papan kayu ulin pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah mesti dilepas.
“Kita harus melakukan sesuatu dengan paus ini,” kata Elansyah suatu kali kepada istrinya. “Kita kehilangan ketenangan. Kita kehilangan privasi dan sebentar lagi, kita akan kehilangan rumah serta nasi untuk mengisi perut. Semua diambil oleh paus sialan itu. Dan ingat, ia hanya mau makan kakap. Betul-betul gila.”
“Hus,” sergah si istri, “jaga ucapanmu. Nanti anak kita dengar.”
“Tapi, memang begitu kenyataannya,” jawab Elansyah. “Hidup kita terancam dan ini semua gara-gara paus itu. Pikirkan itu.”
Si istri mengabaikan Elansyah yang terus mengomel meski ia sadar betul semua yang dikatakan si suami adalah fakta—khususnya mengenai kakap yang sangat menguras jatah belanja bulanannya. “Kebahagiaan anak-anak kita lebih penting dari uang yang kita habiskan,” kata si istri kemudian dengan sedikit ketus.
Respons si istri membuat Elansyah bertambah kesal, “Paus memang seharusnya hidup di laut, bukan di tengah kota Samarinda.”
Keesokan harinya, Elansyah tidak bisa membuka pintu kamar. “Paus terkutuk itu pasti tumbuh tambah besar lagi dalam semalam dan kini badannya menghalangi pintu ini,” ia menggerutu. Istrinya menguap di atas kasur dan menjawab pendek, “Persis. Karena itulah, aku kembali tidur tadi. Aku juga tidak bisa membuka pintu itu.”
“Kita harus melakukan sesuatu,” Elansyah menjerit. “Kita tidak bisa membiarkannya. Aku akan pergi ke kantor wali kota dan mengatakan agar ia mengirim orang untuk membawa paus ini ke laut.”
“Mungkin itu memang yang terbaik,” kata si istri setelah terdiam beberapa saat. “Tadi, begitu aku gagal membuka pintu, aku juga memikirkan kemungkinan itu. Tapi, kau harus memberitahu anakmu tentang ini. Bagaimana pun juga, aku tidak ingin dia bersedih.”
“Aku akan memberitahunya,” kata Elansyah, “aku akan memberitahu bahwa imajinasinya terlalu berbahaya dan imajinasi yang terlalu berbahaya tidak baik dipelihara.”
Si istri hanya menggeleng. “Cari kata-kata yang baik. Aku benar-benar tidak bisa melihat anak kita sedih.”
Elansyah melompat dari jendela dan menemukan ratusan orang telah menyesaki halaman rumahnya yang tidak seberapa luas. Ia memandang jalanan dan deretan orang mengular untuk melihat paus merah jambu yang kini terjebak di sepanjang ruang tamu sampai ruang tengah rumahnya.
“Bantu aku,” ia berteriak kepada orang-orang itu. “Bantu aku mengeluarkan paus terkutuk itu!”
Begitulah mereka melepas dinding papan ulin, lantas menyeret si paus ke halaman.
Si sulung merengek ketika Elansyah mengatakan bahwa paus itu harus dilepas ke laut.
“Abah tidak boleh melakukannya,” jerit si sulung. “Paus itu imajinasiku. Kata Abah, hasil imajinasi kita itu seperti anak-anak kita sendiri. Bukankah Abah selalu menganggap pentas-pentas teater Abah sebagai anak-anak Abah sendiri?”
“Tapi, ini berbeda,” kata Elansyah. “Ada memang imajinasi yang berbahaya dan imajinasi seperti itu memang harus disingkirkan.”
Si sulung masih merengek-rengek, “Beri waktu semalam lagi …,” si sulung melanjutkan, “supaya aku bisa menghabiskan saat-saat terakhir dengan paus itu.”
Elansyah menggeleng-gelengkan kepala. Ia kadang takjub dengan si sulung yang masih berusia sebelas tahun, tetapi seringkali bisa mengatakan hal-hal yang terlalu dewasa.
“Aku tidak pernah melihat anak kecil yang lebih dewasa ketimbang kamu,” kata Elansyah pada akhirnya. “Namun, tentu saja kau bisa menghabiskan saat-saat terakhir dengan paus itu. Besok. Besok kita akan mengirimnya ke laut. Tapi, ingat! Paus itu harus tetap berada di halaman supaya tidak menghalangi ibumu keluar kamar.”
Si anak setuju.
Masalahnya adalah paus itu sudah tidak ada ketika Elansyah bangun pagi keesokan harinya. Elansyah bangun berkat keributan di halaman rumahnya. Elansyah bergegas keluar ke halaman dengan sarung melorot dan menemukan istrinya menangis. Ratusan orang berkumpul di sana dan mereka berbicara sahut-sahutan sehingga hampir-hampir mustahil mengetahui apa yang terjadi.
“Si sulung,” kata istrinya di sela-sela keriuhan, “si sulung masuk ke dalam mulut paus itu. Paus itu menyelam lalu berenang pergi.”
“Menyelam?” Elansyah takmengerti apa yang dikatakan istrinya, “Berenang pergi? Apa maksudmu?”
“Aku melihatnya,” kata si istri, “ketika kau masih tertidur seperti seekor babi. Semua orang melihatnya. Semua orang kecuali kau. Paus itu membuka mulutnya dan si sulung melompat ke dalam mulut itu. Lantas paus itu menyelam ke dalam tanah dan berenang seperti ia berenang di laut. Lalu, mereka menghilang, paus itu dan anak kita menghilang. Semua ini salahmu. Salahmu!”
Paus itu tidak pernah ditemukan. Begitu pula si sulung. Tim SAR telah dikerahkan dan mereka menyusuri tiap sudut Samarinda. Namun, nihil.
Bulan-bulan berlalu dan Elansyah berupaya berdamai dengan keadaan. Istrinya masih sering menangis dan si bungsu mulai kerap melamun seperti dulu si sulung melakukannya.
“Apa yang kau lamunkan?” Elansyah bertanya suatu kali.
“Imajinasiku, mungkin,” jawab si bungsu.
Elansyah menghela napas dalam-dalam.
“Apa yang kau imajinasikan?” Elansyah bertanya pada akhirnya.
“Tuhan …,” si bungsu menjawab, “aku mengimajinasikan Tuhan. Apakah menurut Abah, aku boleh mengeluarkan imajinasiku?”

Dadang Ari Murtono lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, Ludruk Kedua (2016), Samaran (2018), Jalan Lain ke Majapahit (2019), Cara Kerja Ingatan (2020), Sapi dan Hantu (2022), Cerita dari Brang Wetan (2022), dan Peta Orang Mati (2023). Bukunya Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019, sedangkan buku Cara Kerja Ingatan merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Ia menjadi juara 3 Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2021 dengan karyanya Sapi dan Hantu yang juga merupakan nomine Buku Pilihan Tempo 2022. Ia juga mendapat anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya tahun 2019. Saat ini, ia tinggal di Samarinda dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.



