Raha, 11 Mei 2026–Sebagai langkah strategis menyelamatkan bahasa daerah dari ancaman kepunahan, Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara (BB Sultra) menggelar kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru Utama Revitalisasi Bahasa Muna. Acara ini berlangsung selama 3 hari, 10–12 Mei 2026, bertempat di SMAN 1 Raha, Kabupaten Muna. Kegiatan pelestarian bahasa ini diikuti oleh 120 guru SD dan SMP di Kabupaten Muna dan Muna Barat.
Acara tersebut dibuka secara langsung oleh Bupati Muna, Bachrun. Turut hadir pada pembukaan acara, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sultra, Dewi Pridayanti; plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muna, Karim Darma; Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muna Barat, La Haji; Kepala Seksi SMA Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prov. Sultra di Kab. Muna, Adi Munardi; Wakil Ketua II dan Sekretaris Lembaga Adat Muna; serta Kepala SMA 1 Raha, Achmad Djaya Adi.
Dalam sambutannya, Bupati Muna menekankan pentingnya peran guru sebagai ujung tombak pewarisan budaya kepada generasi muda di tengah arus globalisasi. ”Bahasa Muna adalah identitas, karakter, dan ruh dari kebudayaan masyarakat kita. Melalui peningkatan kompetensi ini, saya meminta agar para guru utama dapat mengaplikasikan metode pembelajaran yang inovatif. Kita harus membuat anak-anak muda kita kembali bangga dan tidak malu menggunakan bahasa Muna dalam interaksi sehari-hari mereka,” tegas Bachrun.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BB Sultra menjelaskan bahwa program revitalisasi ini adalah komitmen nyata pemerintah untuk melindungi bahasa daerah yang kondisinya kian terancam.”Revitalisasi bahasa daerah adalah langkah pelindungan yang konkret agar proses pewarisan bahasa dari generasi tua ke generasi muda tidak terputus. Guru-guru utama yang hadir di SMAN 1 Raha hari ini adalah penggerak yang bertugas menyebarluaskan ilmu ini kepada guru sejawat dan siswa,” ujar Dewi Pridayanti.
Dukungan penuh terhadap inisiatif ini juga disuarakan oleh tokoh pelestari budaya setempat. Wakil Ketua II Lembaga Adat Muna menyoroti pentingnya menyisipkan nilai-nilai kearifan lokal di dalam setiap pembelajaran bahasa daerah.”Lembaga Adat Muna sangat mengapresiasi dan bersyukur atas langkah nyata ini. Kami berpesan agar pengajaran bahasa Muna di sekolah tidak hanya terbatas pada teori tata bahasa semata, tetapi harus disematkan nilai-nilai adab, etika, dan tradisi leluhur. Kalau bukan kita yang mengajarkan dan merawat bahasa ini sekarang, kelak ia hanya akan tinggal sejarah,” tuturnya.
Selama 3 hari pelaksanaan kegiatan, para peserta digembleng dengan berbagai materi esensisal dan menyenangkan. Materi tersebut meliputi Pengantar Bahasa Muna oleh Karim Darma, berpidato oleh Abdul Asis Fuadi, menyanyi oleh Kadirun , menulis cerpen oleh Wa Sree Galuatry Rachman, mendongeng oleh La Ode Maidila, dan komedi tunggal oleh La Halidin. Materi pembelajaran yang disampaikan relevan dengan kondisi siswa saat ini dan dipraktikkan langsung di kelas.









