Baubau, 5 Mei 2026 — Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara (BB Sultra) terus memperkuat upaya pelestarian bahasa daerah dengan menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru Utama Revitalisasi Bahasa Wolio. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari, mulai 4 s.d. 6 April 2026 di Kota Baubau. Sebanyak 80 orang guru penutur bahasa Wolio yang berasal dari Kota Baubau dan Kabupaten Buton Selatan. Hadir pula Kepala BB Sultra, Dewi Pridayanti; Sultan Buton, PYM La Ode Muhammad Sjamsul Qamar; Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Buton, Wa Ode Al Zarliani; serta Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Buton Selatan, Suparman.
Kepala BB Sultra mengatakan bahwa di Sulawesi Tenggara, program revitalisasi telah dilaksanakan sejak 2024. “Pda tahun pertama kami menyasar bahasa Tolaki, kemudian pada 2025, selain bahasa Tolaki kami juga merevitalisasi bahasa Wolio. Pada tahun 2026 ini, kami tambah satu bahasa yang menjadi sasaran revitalisasi, yaitu bahasa Muna. Jadi, untuk bahasa Wolio ini merupakan tahun kedua pelaksanaan,” jelasnya.
Dalam kesempatan ini, Kepala BB Sultra juga menyerahkan buku antologi cerita pendek (cerpen) berbahasa daerah. Buku istimewa tersebut merupakan karya para siswa yang menjadi peserta Kemah Cerpen hasil program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) pada tahun 2025 lalu.
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Baubau, La Ode Darussalam, yang mewakili Wali Kota Kendari. Dalam sambutannya, ia menekankan betapa krusialnya peran para pendidik dalam menjaga eksistensi identitas lokal.
”Bahasa Wolio bukan sekadar alat komunikasi, melainkan akar identitas dan warisan peradaban leluhur Buton yang harus kita pertahankan. Harapan kita, generasi muda kembali bangga berbahasa daerah di tengah gempuran modernisasi,” ujar La Ode Darussalam saat membuka acara.
Untuk memastikan kualitas materi, BB Sultra menghadirkan sejumlah pakar dan maestro bahasa Wolio menjadi narasumber, antara lain, Agus Slamet (pakar mendongeng), La Ode Muhammad Alfian Zaadi (pakar pidato), La Ode Alirman (maestro bahasa Wolio) dan Zulyah (pakar menulis cerpen), Asri (pakar menyanyi/kabanti), dan Muh. Suhendra (pakar komedi tunggal).
Melalui kolaborasi antara Balai Bahasa, pemerintah daerah, tokoh adat, akademisi, dan para maestro, revitalisasi bahasa Wolio diharapkan tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi kembali hidup menjadi bahasa percakapan dan karya kreatif yang mengakar kuat di Kepulauan Buton.
BB SULTRA GELAR PENINGKATAN KOMPETENSI GURU, LESTARIKAN BAHASA WOLIO DI BAUBAU







